Nyekar; Tradisi, Reuni, dan Pepeling

Nyekar, ngirim, atau bahasa umunya adalah tabur bunga di pemakaman. Tulisan kali ini adalah sebuah pengalaman pribadi dan wujud refleksi serta opini saya sendiri tentang kegiatan yang masih rutin saya lakukan tiap tiga puluh lima hari sekali itu. Iya, nyekar atau ngirim itu.

Bagi masyarakat Jawa, kegiatan nyekar pasti dilakukan setiap hari Kemis dengan pasaran Wage karena pada malamnya adalah malam Jumat Kliwon. Konon katanya malam Jumat Kliwon itu wingit dan sacral karna para arwah lelulur akan “pulang” untuk tilik keturunannya. Percaya ndak percaya tapi ya begitulah. Keluarga saya sendiri sebagai penganut Kejawen yang so so dan seorang abangan yang emang udah dari sononya ya menerimanya saja. Toh sebetulnya ndak ada yang harus dikhususkan. Saya pribadi menganggapnya biasa aja dan ya ndak ada salahnya dilakukan. Saya kan hanya harus menyisihkan waktu dan sedikit rejeki saya untuk menemani simbah ke makam. Selebihnya saya menikmatinya sebagai sebuah “ritual” untuk lebih mengenal siapa saya dan bagaimana masyarakat berinteraksi di makam baik kepada yang sudah meninggal ataupun kepada sanak yang masih hidup dan waktu itu sedang nyekar disitu.

Saya menganggap kegiatan nyekar ini sebagai tradisi. Iya, nengok yang udah meninggal dan membawa kembang serta kemenyan. I did. Entahlah, tapi saya suka kegiatan ini. Bagi saya ini kegiatan nyata bahwa badan saya mendatangi yang sudah meninggal sedangkan untuk doa saya lebih suka melakukanya dirumah saja ketika selesai beribadah.

Reuni. Selalu menjadi main interest saya ketika mengantar simbah nyekar adalah interaksi beliau kepada sesama yang sedang nyekar. Mereka bertemu, saling sapa,saling mengingatkan, saling menceritakan keluarga dan mengenalkan keluarga apabila ada yang mengantarkan. Saling mendoakan juga menjadi agenda mereka ketika mereka bertemu. Sungguh perasaan dan pengalaman yang tak mampu terbeli dengan uang.

Pepeling, pengingat kalau dalam bahasa umumnya. Iya, saya menganggap kegiatan nyekar sebagai pepeling atau pengingat kepada saya yang masih bocah ini. Bahwa sesungguhnya kematian itu dekat dan kita tak pernah tahu kapan akan pulang kepadaNya.

Saya, ketika nyekar, empat tempat yang saya datangi. Makam bapak, simbah lanang dari bapak, ibuk dari simbok (simbah), dan simbah kakung (bapak dari ibuk). Khusus yang terakhir memang saya agak jarang karna memang jarak yang jauh. Saya terkadang juga menyempatkan nyekar ketempat kerabat yang sekiranya saya kenal. Kepada beliau Simbah Joyo, sesepuh TRB saya kadang sempatkan waktu kesana.

Disaat nyekar kadang saya juga berpikir, mungkin mereka yang sudah meninggal dan diberi stempel tanda agama di nisanya itu meskipun berbeda namun tak pernah usil dan saling menghina atau saling menyalahkan. Toh harta tak dibawa, dan pada akhirnya kalau mati juga dikubur. Kalaupun nisan yang satu dengan yang lain terlihat beda dengan sangat mencolok mata, itu semata mata karna keinginan yang masih hidup saja. Bagi mereka yang sudah meninggal, tentunya lebih memilih didoakan to?

DSCN0003 DSCN0008 DSCN0015 DSCN0020 DSCN0032 DSCN0036 DSCN0037 DSCN0050 DSCN0052 DSCN0055

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s