Perkara Selera

Saya sendiri masih kurang paham akan arti dari kata selera. Hehe..

Begitu sering saya mendengar atau bahkan saya sendiri menggunakan kata tersebut dan karna saya tidak begitu malas saat menulis ini, maka saya pun mengetik kata selera di halaman google untuk mencari tahu artinya. Berdasarkan kamus online dr kbbi, dapat kita simpulkan kalau kata selera ini lebih mengacu ke nafsu untuk memakan sesuatu. Beruntungnya, memang saya mau membahas seputaran makanan juga 🙂

screenshot_2016-09-07-20-08-16

kbbi.web.id

Beberapa hari terakhir saya sering mendengar orang disekitar saya menggunakan kata selera ketika mereka menceritakan tentang pengalaman mereka menikmati makanan. Mulai dari kesukaan mereka untuk rasa asin, manis, atau malah asam. Pedas? Yakin pedas itu termasuk rasa? Jal cari tahu lagi.

Kebanyakan dari kita memang punya selera yang berbeda atau kenafsuan akan makanan (khususnya tentang rasanya) berbeda antara satu dengan yang lainya, bahkan orang kembar identik sekalipun. Beberapa suka dengan yang asin, beberapa suka dengan yang manis, beberapa suka dengan yang ada rasa asamnya, dan beberapa suka dengan rasa yang hambar. Adakah yang salah? Tentu tidak karna ini bukan kebenaran yang pasti. Biarkanlah beda asal tetap bisa bersama. Duduk berdampingan dengan damai. *iki malah mbahas opo jane

Perkara selera memang tidak bisa dipaksakan antara satu orang dengan yang lainya dan kita tidak bisa menyalahkan kalau ada orang yang berbeda selera dengan kita. Misalnya, teman kita suka dengan rasa sebuah masakan yang asin sedangkan kita yang hambar dengan rasa asin yang tidak begitu kentara. Ya ndak papa toh? Lo laiya! Akan menjadi masalah, menurut saya, ketika dia yang suka dengan rasa asin lantas meminta kepada yang punya warung makanan untuk mengasinkan masakanya kepada semua pelangganya. La kan tidak semua orang suka dengan rasa asin. Bahkan ada yang menghindarinya.

Ketika kita lebih suka dengan rasa tertentu dan menginginkan sesuai dengan yang kita maui, pilihanya adalah menambahkan sendiri bahan tambahan ke dalam masakan tersebut atau memasak sendiri masakan tersebut. Hal yang sangat disayangkan adalah, ketika pelanggan atau pembeli malah seakan menyuruh bagi si pemilik warung untuk membuat masakanya sesuai dengan keinginanya dan itu dilakukan di saat pembeli tersebut sudah selesai melahap makananya. Menyebalkan? Buat saya iya.

Akan lebih bijak apabila pada saat memesan makanan, kita menyebutkan keinginan kita akan kecenderungan rasanya. Misalnya, lebih suka yang asin, bilang ke pembuat masakanya bahwa lebih suka asin dan minta tolong garamnya dilebihkan atau kan biasanya di meja makanya ada garam sebagai tambahan kalau dirasa masakanya kurang asin. Kalau saya, ketika datang ke suatu warung makan dan memang penasaran dengan rasanya, saya akan memesan sesuai dengan yang menjadi kebiasaan di warung tersebut atau katakanlah saya ngikut dengan khasnya warung tersebut. Ketika saya sudah mencicipi kekhasanya, baru saya tambahi ini itu kalau dirasa belum sesuai dengan selera saya. Yak! Selera kita memang berbeda. Kemudian, masalahnya dimana?

*khususon kalau jajanya bukan di warteg atau ratengan yes

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s