Nek Ho.oH-Ho.oH, Nek Orak-Orak

Sering kali kita mewacanakan untuk bepergian atau sekedar kumpul-kumpul hore dengan teman atau keluarga namun tidak sedikit berakhir dengan bhay atau tidak jadi. Ya, paling banter diundur soalnya banyak yang tidak bisa datang akhirnya. Sedih? Iyalah! Acara bergosip dan mengadu nasip serta sesumbar dan sambatnya kan jadi tersendat. Hal sedih lainya? Jadi bahan gunjingan kalau tidak datang. Horotoyoh, we 🙂

Sebenarnya, semakin dewasa dan semakin banyak tanggung jawab waktu (yang katanya tidak akan kembali) kepada keluarga (bagi yang sudah berkeluarga) membuat bisa memutuskan suatu hal (khususnya dalam hal dolan atau kumpul-kumpul) lebih mudah. Kalau bisa ya tinggal bila iya, kalau tidak bisa ya bilang saja, maaf , saya tidak bisa. Semudah itu sebenarnya. Namun menjadi rumit kalau jadual bekerja tidak tentu dan keluarga juga nanggung untuk ditinggal.

Katakanlah, salah satu pasangan tidak mengijinkan untuk dolan atau kumpul-kumpul dengan teman, ya jadi rumit. Selalu berkutat dengan pekerjaan dan butuh waktu untuk recharge energy selain dengan keluarga juga diperlukan, kalau menurut saya. Beberapa orang bahkan memilih untuk bepergian sendiri supaya energinya kembali dan bisa kembali siap untuk melakukan pekerjaan di kemudian hari. Meski ini tidak berlaku untuk semua orang tentunya.

Bagi yang membuat woro-woro untuk berkumpul dan dolan, mereka yang plin dan plan itu juga bisa bikin susah soalnya mereka tidak bisa membuat si pembuat acara untuk bertindak cepat atau melaksanakan rencana lain kalau rencana awal tidak jadi. Katakanlah, yang dikabari 10 orang namun ada dua yang nanggung mau jadi gabung atau tidak. Ini mudah kalau tempat yang digunakan untuk berkumpul rumah dari delapan yang bisa, akan jadi agak susah kalau tempat yang digunakan adalah semacam restoran dengan jumlah kursi yang terbatas bahkan harus pesan tempat dulu.

Terkadang memang tidak enak untuk bilang tidak karna ya selain memang kegiatan kumpul-kumpul bercerita itu menyenangkan juga karna itu tadi, yang sudah saya sebutkan, kalau tidak datang bisa jadi bahan gunjingan membuat sipembuat woro-woro dan teman yang lain harus siap dengan penolakan. Kalau dipikir-pikir, apa yang salah dengan penolakan? Semestinya, semakin dewasa kan sudah semakin mengerti bagaimana harus memanajemen sebuah perasaan khususnya perasaan ditolak.

Jadi, baiknya ya kalau bisa bilang iya kalau tidak ya bilang tidak. Jangan sungkan karna sungkan itu malah menyusahkan. Hal lain yang lebih penting selain Ho.oH dan Orak adalah, mengabari. Kalau iya ya ngabari, kalau tidak ya tetep ngabari. Aja kaya tai keli. Hih!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s