Sak Madyo Wae

Hari ini hari terakhir di bulan Januari tahun ini. Tidak banyak hal yang sekiranya layak untuk dibagikan sebenarnya. Karna ya, kehidupan tetap seperti ini saja.

Tahun ini saya memasrahkan diri lagi. Tidak mengejar apapun. Tidak berharap terlalu muluk. Tidak neko-neko, meskipun ya namanya cita-cita dan rencana tetap ada. Tapi, saya akan membiarkan itu digenggaman Tuhan sembari saya mengingatkanNya untuk memberikan cita-cita dan harapan saya tersebut di waktu yang tepat. 

Bulan ini saya sudah kehilangan orang-orang yang saya kenal lumayan banyak. Semoga Tuhan “menggantinya” dengan yang baik. 

Tahun 2015 saya lalui dengan berlari lumayan kencang. Banyak pengalaman dan teman baru yang didapat. Saya bepergian tidak sering, namun semuanya berkesan. Tahun lalu saya sudah melambatkan langkah. Menjalani hidup dengan ya sak tekane saja. Dan ya, menyenangkan, meski ada satu dua yang menjadi pengalaman tidak begitu menyenangkan. Tapi tak apa. Sudah terlalui.

Sekarang, saya berharap semoga kebaikan akan datang kepada saya. Saya menjadi lebih menikmati hidup. Lebih banyak tempat di datangi. Dan lebih-lebih yang lainya.

Boleh kan, Tuhan? 🙂

Advertisements

Tentang Kematian

Cara pandang saya akan kematian sekarang ini sudah tidak lagi sama dengan cara pandang saya akan kematian di tiga atau empat tahun lalu. Dahulu, saya sangat heran bagaimana mungkin orang bisa mati. Dan kalimat yang keluar ketika saya mendapati berita akan kematian adalah sama dengan cara bapak saya, “kog iso”. Ya begitu itu. Pokoknya ada orang mati. Trus dikubur. Gitu.

Dahulu, rasa haru, bersedih, berduka dan seakan dunia akan runtuh begitu kentara. Saya memang mudah terharu anaknya. Dan mudah ikut nangis kalau ada yang nangis atau yang paling gampang saja, membaca cerita yang mengharu biru gitu. 

Semenjak ditinggal bapak, saya memandang kematian sebagai fase dalam hidup yang harus dijalani dengan ikhlas. Seperti sebuah jalan yang memang kita harus melewati situ dan rasanya seperti itu dengan pemandangan yang begitu. Ketika bapak tidak ada, saya terlihat sangat tegar dan biasa saja dihadapan para tamu. Saya memang menyimpan rasa duka saya ya untuk saya sendiri karena keadaan saat itu ibu sangat terguncang. Kalau saya tidak kuat dan menguatkan beliau bisa menambah repot orang lain, pikir saya waktu itu.

Ketika ada yang mati, sekarang-sekarang ini, saya lebih ke yang memendam rasa sedih dan haru serta duka saya ya untuk diri saya sendiri saja. Menangis seperlunya. Karena ya pada akhirnya semua akan baik-baik saja. 

Setelah Sekian Lama

Terakhir saya posting tulisan adalah tahun lalu dan mengawali tahun ini saya akan mencoba untuk menceritakan pengalaman saya nonton film kemarin. Saya mengawali tahun ini dengan nonton film Cek Toko Sebelah dan itupun tidak di kota sendiri atau Jogja tetapi di Solo. Iya, ini secara tidak sengaja karena saya nonton film ini untuk mengisi waktu luang nunggu kereta berangkat ke Jogja.
Saya tidak berharap banyak ketika nonton film ini karena ya biar ndak kecewa dan ternyata saya sangat terhibur dengan film ini. Hal yang membuat saya geleng-geleng kepala tidak habis pikir adalah, adanya Kaesang di film ini. Pas wajah dia muncul, sontak saya misuh dan ngakak tiada henti sampai beberapa detik. Setelahnya saya berfikir ini yang buat edan. Pantas saja kemarin Pak Jokowi sampai nonton 🙂

Jalan ceritanya saya suka. Tokoh yang mencuri perhatian saya justru adanya Gisella. Dengan kemungilanya, dibingkai dengan baju-baju yang lucu membuat saya belum bisa move on dari model dan corak kainya. Fashionable buwanget!

Fokus saya justru bukan di akhir dari film ini. Saya malah lebih ke “hikmah” yang bisa saya ambil. Seorang saudara bisa menjadi musuh, teman, sabahat, bahkan partner in crime. Hal tersebut membuat saya angguk-angguk kepala dan berdoa semoga bisa menjadi saudara yang baik buat saudara saya.

Ada lebih ada kurang. Ada yang suka ada yang tidak suka. Hal yang saya tidak begityu suka adalah penggunaan bahasa inggris. Menurut saya itu berlebihan. Sebenernya wajar karna ingin menunjukan kalau si tokoh bekerja di perusahaan multi-nasional tetapi menurut saya agak kurang wangun.

Hadirnya karakter komika dengan “kekhasan” mereka, sukses membuat tawa semua penonton yang melihat saat itu. Nah, bagi njenengan semua yang membutuhkan sedikir olahraga mulut berupa tertawa, rasanya film ini bisa dijadikan alternatif. Monggo-mongo, gaes :))

*Ini sebenernya review apa apa sik, Dik? Yawla