Rejeki itu Bernama Usia

Beberapa hari yang lalu, kerabat seorang teman melangsungkan pernikahan tepat di samping jenazah ayah mempelai perempuan. Sontak membuat mata saya panas dan berair. Selain karena saya memang orangnya mudah terharu trus mewek, kondisi itu juga membuat saya sadar diri akan nasib saya sendiri. Saya yang kondisi saat ini sudah piatu dan saya yang sampai sekarang masih sendiri. Saya tidak iri, saya malah ikut berbahagia karena mereka akhirnya menikah meskipun keadaan saat mereka menikah sangat mengharukan.

Jadi, memang benar adanya bahwa rejeki bernama usia itu memang rahasia dan sepenuhnya bukan kuasa manusia untuk menentukan sampai di mana rejeki bisa bernafas itu bisa dinikmati. Mungkin saat ini bagi yang usianya masih belia dan hidup berkecukupan malah lebih banyak berfoya berfikir bahwa hidupnya masih sangat panjang dan masa muda nan indah itu tidak akan berakhir. Tapi siapa yang tahu, toSaya juga punya seorang teman yang masih sangat muda usianya dan sehat badannya tahu-tahu menghembuskan nafas terakhirnya pada saat tidur.

Beberapa bulan lalu saya pernah mendengar seorang saudara pernah berkata bahwa sebaiknya menikah itu yang menikahkan ayahnya, bukan diwakilkan dari KUA. Saya kecewa. Kecewa betul. Bagaimana bisa orang yang bisa dikatakan berpendidikan bagus dan berwawasan luas dan berteman banyak orang bisa punya cara berfikir yang seperti itu. Tapi ya gitu deh ya, kan nggak jaminan juga orang dengan pendidikan bagus dan wawasan luas bicaranya jadi santun dan tidak menyakitka. Ye, kan?

Saya menyayangkan dia tidak menyadari bahwa bisa saja suaminya itu meninggal lebih dulu. Meninggal tanpa sempat menjadi wali nikah buat anak perempuanya. Tanpa bermaksud mendoakan, tetapi apabila ada kalimat santun yang bisa dipakai, kenapa memilih kalimat yang menyakitkan? Kecuali kalau niatnya untuk memotivasi atau mengkoreksi ya monggo saja. Bagi saya masih lumrah. La ini? Agaknya dia lebih condong ke sombong dari pada memotivasi atau malah mengkoreksi.

Hanya karena hidup seseorang tidak sama dengan yang lain, tidak lantas dinilai kurang atau tidak normal, kan? Toh masalah usia ini ya manusia sendiri ndak tau akan sampai seberapa batasanya. Menurut hemat saya, ya kalau masih punya usia, sebaiknya digunakan dengan baik. Gitu aja. Hehe 🙂IMG-20170903-WA0005

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s