Ayat-Ayat Cinta II; Fahri, koe kapiken.

Selalu seperti yang sudah-sudah. Ini bukan review film atau mau mengomentari tiap adegan di filmnya. Serius, tulisan saya cen malah akeh-akeh e ora ana hubungan e ro film e. kalaupun itu ada, paling ya gur seuprit.

Sebenernya, saya nonton film ini udah tahun lalu (yaiyalah, Dek. Kan release 21 Desember. Pitikih) bersama dengan seorang teman, namanya Katrin. Kami berdua nonton karena ya ora ana agenda liane. Hahaha. Sedari awal film mulai, dengan bekal baca beberapa blog review film ini, saya focus kepada Fahri, si tokoh utama. Diceritakan, dia seorang professor, punya butik, swalayan, dan embuh apa meneh, yang membuat dia begitu kuaya ruaya.

Sudahlah materi tercukupi, bentuk badan yang, katakanlah, proporsional, baik budi, pintar mengaji, rajin solat, dll entah apa lagi itu sisi baik kayaknya semua ada di dia. Pek en, mas. Pek en. Rasah sisane nggo liane.

Fahri, menjadi sosok yang terlalu sempurna di mata saya. Edyan wae, kabeh dipek rod eke, jal. Njuk kemudian membuat saya jadi berfikir, itu, di kehidupan nyata, apakah ada orang seperti itu?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s