Mukbang 5 potong ayam Olive

So, here I am! Haha ๐Ÿ˜€

Akhire, kesampaian njajal mukbang ala-ala embuh nang Olive. Apa itu Olive? Jadi, Olive ini sejenis KFC tapi versi ekonomisnya gitu. Kenapa makannya di Olive? Ya seneng-seneng aja. Nggak, ding. Hehe. Alasan kenapa memilih Olive adalah, karena rasa ayam di Olive ini hampiiiiiiiirrrr mirip dengan KFC dan dagingnya itu empuk plus lembut. Selain itu, harga yang dibandrol juga reasonable dengan kualitas dan kuantitas produknya. Masuk akal lah pokmen. Kemarin pas makan itu untuk 2 porsi Olive Dada (sudah sama nasi) yang pakai tulang ditambah dg 3 daging Olive bertulang tanpa nasi (udah dapat 2 gelas es the juga, btw) saya habis sekitar 52 ribu rupiah. Masih masuk akal dan masuk budget kantong menurut saya. Njuk, kepie rasane mukbang 5 potong ayam goreng Olive Chicken? Btw2, matur nuwun kepada Avicay yang sudah mau menemani melakukan hal embuh ini bahkan sampai buat videonya ๐Ÿ˜€

Suapan di potongan ayam yg pertama, wueh, enyaaaaaakkk. Gembel aja sampai ada yg bilang hiyek. Kriuk-kriuk renyah dengan lembut dan tebal daging ayam nyampur sama saos cocolan dan pulennya nasi jadi bikin lupa kalau punya utang. Iye, lupa, bentar aja tapi. Potongan ayam pertama habis dengan sukses bersama dengan satu punuk nasi pulen. Saya pas itu pesennya dua nasi karena kog rasanya lapar banget. Eh, ternyata nasinya nggak habis juga wong ketutup sama ayamnya yang mau dihabisin.

IMG_20180319_170340

Lanjut ke potongan ayam berikutnya, di tengah perjalanan melahapnya, harus dengan susah payah karena perut sudah penuh euy! Meskipun begitu, ya tetep berjuang sampai akhir lah. Kan udah diniati. Dibantu dengan taburan lada sama saos cocolan, sukseslah itu ayam ke dua masuk ke perut. Istirahat sebentar sambil lihat-lihat pengunjung lainnya dan nggosip, akhirnya mencoba nyomot ayam ke tiga.

Sebenernya, perut sudah minta tolong untuk berhenti karena sudah penuh. Lagipula, rasa enek juga sudah mulai mendominasi, tapi ya namany Dik Yull, ngeyel to the max lah ya pokoknya. Disentuhlah ayam ke tiga. Mulai mbukak dagingnya, dan bertahan di suapan ke tiga atau ke lima, kemudian menyerah. Yeeeeeaaaaa!!!!

Akhirnya hanya bertahan di dua setengah potong ayam saja, sodara-sodara. Masih tersisa dua setengah potong ayam goreng dan satu punuk nasi. Akhirnya ya dibungkus, dibawa pulang, buat oleh-oleh simbah. ๐Ÿ˜›

Rasanya gimana, Dik? Rasanya cukup sudah. Saya sepertinya sudah tidak akan melanjutkan lagi yang namanya mukbang-mukbangan. Selain karena kegiatan tersebut memaksa untuk menghabiskan juga karena sebenernya, saya ini tipikal orang yang kalau makan mriyayeni. Makan itu ya kegiatan yang harusnya dilakukan dengan alon-alon, duduk tenang, dikunyah pelan-pelan, benar-benar tiap suapan, gigitan, kunyahan, dan menelan itu dinikmati sekali. Makanya, saya sering kalau makan itu lama dalam arti yang sebenarnya karena ya kalau makan alon-alon waton kelakon itu tadi.

Ini bisa jadi adalah kegiatan makan banyak saya yang terakhir. E tapi, kemaren mau nyoba makan bakso tusuk 75 butir j. Haha. Coba lihat besok deh yang ini. Tadinya saya mau 8 potong ayam tapi akhirnya dipangkas jadi 5 karena ya takut nggak habis. Eh, ternyata beneran nggak habis ๐Ÿ™‚

Makan memang enaknya ya secukupnya, maka makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang, katanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s