Museum Cokelat Monggo; Pahit, legit, nang kene dadi siji

Kalau njenegan kira di Bantul minim museum, ngapunten, njenengan kleru. Bantul sekarang sudah sangat berkembang dan salah satu wujud kemajuannya terutama di bidang pariwisata khususnya museum ya dengan adanya Museum Cokelat Monggo ini.

Di sini njenengan akan melihat sejarah mengenai cokelat dari belahan dunia lain bahkan sampai sejarah percokelatan di jogja. Cukup menarik karena dihias dengan mural dan berbagai mini diorama yang membantu menjelaskan. Selain itu, pemandu di museum ini juga sangat informative. Jadi,njenengan tidak perlu khawatir.

Di sini,tidak dikenakan biaya masuk,namun demikian akan lebih baik kalau njenengan menelpon dulu apabila ingin berkunjung apalagi kalau njenengan rombongan kalau hanya siji-loro ya langsung datang saja masih aman. Di museum ini, ada empat tempat utama yang menurut saya njenengan semua harus datangi dan lihat. Museum, jelas merupakan bangunan utama di sini di sini, dan seperti yang sudah saya sampaikan terdapat sejarah cokelat sampai di Indonesia. Kemudian ada berbagai merk cokelat yang bisa anda lihat dari papan enamel yang dipajang di ruang pamer. Ada diorama nyata bagaimana proses pembuatan cokelat mulai dari pemanenan sampai menjadi bentuk cokelat bubuk. Sampai disini njenengan paham kan? Kalau cokelat itu ternayata adalah buah dengan biji bukan semacam umbi atau yang sudah bentuk batangan itu. *yaiyalah,Dek

IMG_20180419_104213

Pada bagian dinding-dinding museum ini, terdapat mural yang sangat kece dan sekaligus sebagai alat untuk membantu menerangkan tentang cokelat itu sendiri. Keren pokoknya! Karena namanya Museum Cokelat Monggo, jadi ya yang jadi fokusnya ya cokelat Monggo. Makanya, di museum ini sebenernya njenengan selain akan diajak untuk lebih mengenal cokelat Monggo juga akan melihat bagaimana cokelat Monggo berkontribusi pada masyarakat Jogja, khususnya di Gunungkidul, karena di sana penghasil cokelat terbanyak jebulane. Selain terhadap petani cokelat di Gunungkidul, juga terhadap masyarakat sekitar Museum Cokelat Monggo karena ya bisa menyerap tenaga kerja masyarakat sekitar museum toh.

Njenengan kalau mau coba bikin macam cokelat batangan gitu juga bisa. Biayanya 200ribu untuk 20 orang. Kalau Cuma 5 orang ya bayarnya tetep 200ribu tapi. Jadi, kayaknya itu flat rate minimal. Kalau nggak gitu tertarik untuk njajal nggawe cokelat ya nikmati aja macam hidangan dari cokelat di kafe samping workshop. Jenenge wae Museum Cokelat Monggo dan njenengan diajak mengenal cokelat (Monggo), jadi ya sajian cokelatnya jelas wae enak kabeh. Ya, setiaknya untuk lidah saya yang kenalnya rasa cuma enak sama enak banget. Monggo njajal es cokelatnya, Ya Allah, itu bikin hati senang dan terharu karena saking enaknya. Ada beberapa alat permainan tradisional yang bisa njenengan coba. Sebut saja egrang, sandal tiga tali, jaran kepang, yo-yo, dakon, dll. Lumayan untuk sejenak menunggu pesanan datang.

IMG-20180425-WA0022

Pas niliki pabriknya, dari jendela dan pintu kaca sudah langsung tercium wangi cokelat dengan hawa hangat. Adududududududuh.. Rasane kayak njenengan lelumban di kolam cokelat gitu. Ho.oH, saya cen lebay. Tapi yo ben. 😀

Nah, kebetulan kan saya kemarin bikin video untuk kunjungan di museum ini sekaligus njajal melu kontes vlog. Kalau mau lihat sekaligus like video bisa keleus. Monggo 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s