Digenteni

Berawal dari seorang teman yang bercerita bahwa dia baru saja putus dari pacarnya dan seorang teman yang baru saja diberhentikan oleh tempatnya bekerja, maka saya membuat tulisan ini dan sedikit bercerita. Ndilalahe kog ya nemu gambar yang pas di Twitter. Jadi ya sehingga, sodara-sodara 😀

Yak, betul. Kita semua, njenengan, saya, kae, deke, koe, siapapun akan bisa digantikan atau kalau dalam bahasa jawanya disebut digenteni. Digenteni dengan apa? Ada banyak kemungkinan. Nek dalam dunia pacaran ya digenteni oleh orang lain. Bisa yang lebih baik, buruk, kaya, miskin, atau yang disetujui oleh orangtua. Banyak hal pokoknya yang bisa menjadi tumpuan kenapa digenteni. Kalau dalam bidang pekerjaan, ya bisa digenteni dengan pekerja lain yang lebih baik, fokus dalam bekerja, sregep, telaten, atau bahkan yang “dekat” dengan penguasa di tempat kerja tersebut. Khususon untuk pekerjaan, bisa juga digantikan oleh mesin. Jadi, tenaga manusi diganti dengan mesin atau robot.

IMG_20180630_083934

Kepie rasane digenteni? Kalau mendadak ya jelas kaget, tetapi ya ada yang mau digenteni dg legawa. Nek dari gambar yang saya posting di tulisan kali ini, ya ada benarnya. Mbok arep apik e kaya apa, awak e dewe ki tetep iso wae digenteni. Mau sebagus apapun wes lah, tetap aka nada yg bisa menggantikan. Bisa dalam hal yang-yangan, atau dalam hal pekerjaan. Menjadi orang yang selalu diandalkan tanpa ada pengganti yang digadang juga akan membuat capai. Menjadi orang yang seadanya namun hasilnya ya seadanya jelas membuat orang yang mempekerjakan atau pasangan jadi hilang rasa. Selalu ada resiko dari setiap aksi yang diambil. Pilihannya adalah, akan mengembangkan diri supaya tidak diganti atau keluar dari jerat yang tidak membuat nyaman lantas berdikari. Ya pilihan ada di tangan njenengan, saya, kae, deknen sendiri.

Sudah sayang banget sampai keluarga sendiri dinomor duakan dan menomor satukan keluarga pasangan juga tetap bisa ada yang menggantikan kalau yang namanya “rasa” sudah hilang. La mau diapakan? Rasa itu kan naik turun, dan mengelola perasaan kepada orang yang sama juga bisa dikatakan tidak mudah meski bukan berarti tidak bisa. Semua hal bisa terjadi, semua hal bisa menjadi pemantik untuk sebuah hubungan aka nada yang menggantikan atau tidak ganti-ganti. Ya tergantung dari yang menjalani.

Hal yang menjadi pertanyaan saya, njenengan, sudah siap digenteni?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s