Guyon Waton; Korban Janji

Kemarin lak sudah cerita tentang Guyon Waton dengan lagunya yang Ora Masalah. Nah, sekarang saya mau cerit tentang lagu Korban Janji.

Nek dari lirik, ini lagu ya nggrantes e pol. La kepie jal? Uwis nyedaki arek wedok, kayane sek wedok juga suka, la kog malah ditinggal karo liyane. Kan mumet jadinya. Tersebutlah kalimat , “ Mugo koe ora disia-sia” yang langsung membuat saya mikir. Iki uwong sabar e gede tenan. Uwis ditinggalno, dongane tetep apik loh.

Nek pas saya melihat video klipnya, sebenernya saya mikir juga. Itu jan e udah jadian belum to si embak sama mas baristanya? Kog njuk ada lirik, “ Tanpo pamit koe ninggal aku mbiyen kae”. Magsud saya gini, la kalau belum pacaran, ya, ya sudah. Tolong itu expectasinya jangan keduwuren. Nek uwis jadi pacar ya pie meneh. Diomongke baik-baik lah.

Nah, saiki tentang cerit saya. Nek saya ada gambaran gini. Jadi, ada sepasang orang pacaran nih ya. Trus salah satu dari mereka mengkhianati yang lain dg cara memilih bersama dengan yang orang lain. Segala janji yang pernah terucap sudah dilupakan dan bahkan mungkin hilang seketika.

Terkadang saya berfikir, untuk berpisahitu tidak perlu ada permufakatan seperti ketika jadian. Ya kalau memang sudah tidak bisa diusahakan, ya ikhlaskan saja. Menjadi korban janji mungkin salah satu jalan yang baik untuk menjadi lebih baik. ada sebuah opini tidak populer, ketika kita putus dari pacar, berarti kita selangkah menuju ketemu dengan yang lebih baik (jodoh kita). Ya itu sebetulnya nggak valid-valid juga, tetapi bisa lah dijadikan sebuah semangat untuk mau mencoba lagi.

Rasa sakit ketika ditinggalkan mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh, namun bisa juga waktu yang sebentar. Tetapi, kalau menengok sebuah opini bahwa ketika putus dengan pengalaman yang sakit nan pahit, biasanya akan sangat mudah untuk move on. Ya kalau tidak, ambyar e ya njuk trauma. L

Terkadang saya mikir, waktu itu sebetulnya belum tentu menyembuhkan luka karena patah hati. Namun, seiring berjalannya waktu, manusia menjadi belajar bahwa hidup berdampingan dengan rasa sakit itu bukan sesuatu yang mustahil. Rasa ngelu dan ngilunya akan tetap ada, namun manusia punya suatu teknologi dalam otak dan hatinya untuk mengerem supaya rasa sakit tersebut tidak berlarut-larut. Cukup ditataran batas wajar untuk sakit dan lambat laun menjadi biasa saja.

Ya pie, wong pada akhirnya ya hidup ki tetep bakal terus mlaku. Manusia lak gur gari milih, tetep embuh dengan merutuki nasib atau ya alon-alon waton kelakon sitik-sitik didandani le lara ati. Karo mlaku lak kabeh iso ketandangan. Begitu, bukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s