Aruna dan Lidahnya; Witing tresna jalaran saka kuliner (?)

Kemarin menyempatkan nonton film Aruna dan Lidahnya karena ya saya tertarik dengan tema makanan yang coba diangkat di situ. Trus, ndilalah e sek main film Dian Sastro dan Nicholas Saputra. Seneng akutu sama keduanya. 😀

Jadi, ceritane, Aruna (Dian Sastro) ini tuh temenan sama Bono (Nicholas Saputra). Mereka ini temanannya tuh yang deket gitu. Banget malah. Ning ya kekancan aja, nggak lebih. Trus, Aruna ini seneng sama Faris (Oka Antara), dan si Bono ini seneng sama si Nadesda (Hannah Al Rasyid). Awalnya saya ya berfikir ini film bakalan mengulas tentang makanan dan masakan. Jebulane ya ada konflik entah itu pertemanan dan cinta termasuk kerjaan juga. Jadi, makanan di sini ya menjadi selimut atau nara-hubung nek menurut saya.

Do-s0ngUYAA7Yv2

Meskipun begitu, saya berani taruhan, siapapun yang nonton film ini, keluar dari studio langsung lapar wes. La isine loh, panganan e ukih banget. Haduh, ngeces aku we ngantian. Haha

Akhir dari film e pie? Ya happy ending lah. Aruna ro Faris, Bono sama Nadesda. Gitu. Yang membuat gemes-gemes deg-deg an adalah, bagaimana cara mereka menyelesaikan konflik diantara mereka. Bagi saya, kadang ki ya masalah dewasa jebulane bisa rumit juga. Nek di film ini, di akhir-akhir bagian film, masalah diselesaikan betul-betul dengan cara yang layaknya orang dewasa. Ya percakapan yang terjadi memang harus seperti itu sebenernya.

Sek membuat saya takjub lagi adalah, kan judulnya Aruna seneng sama Faris, nah ini nih yang ngomong seneng duluan Aruna nya gitu. Haha. Jadi ya sehingga, nggak papa juga cewek duluan yang ngomong yak? Mungkin Aruna ini tipikal seperti saya yang punya prinsip getun ning tumbas. Hajar bleh aja udah, yang penting diri sendiri lega dulu. Ungkapin aja. Kalo sama-sama suka ya syukur, nggak juga ya udah, yang penting kan mendamaikan diri sendiri dulu. Gitu.

Nek saya lihat, rasa senengnya antara Aruna-Faris, Bono-Nad ini bukan karena makanan trus mereka jadi saling suka. Ning, ndilalah e saja, makanan menjadi salah satu alat untuk mereka saling dekat. Nek saya, nggak bisa dipungkiri urusan perut ki ya krusial. Mungkin, beberapa orang memang nggak bisa berbagi makanan dengan yang lain, tetapi PDKT dengan alat bernama makanan selalu menjadi pilihan yang tepat. Mengetahui referensi makanan orang yang disuka itu juga perlu. Makanya, jangan pernah menyepelekan tentang makan.

Eh, mumpung film nya belum turun loh. Monggo yang mau lihat betapa kuliner nusantara ini begitu menggoda lidah. Udahlah, nggak papa uang habis buat beli makanan, badan gemuk juga biarin aja. Itu tandanya mulut memang digunakan dengan bener, bukan buat ngrasani liyan. Gitu, nggak, gitu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s