Ndelok Guyon Waton

Nah, setelah minggu lalu berhasil nonton ndangdut, akhirnya minggu ini ada lagi doa yang dikabulkan Tuhan dalam hal nonton menonton pertunjukan musik ini. Saya, berhasil nonton Guyon Waton. 😀

Nulis babagan lagune lak uwis, kemudian iseng beberapa hari lalu saya berdoa untuk bisa nonton Guyon Waton secara langsung. Akhirnya kesampaian karena ndilalahe Kabupaten nanggap. Hamdalah banget akutu.

Selain penasaran dengan penampilan panggungnya, sebenernya saya lebih penasaran dengan polah tinggah penontonnya. Pengen ndelok, khalayak ramai macam apa yang suka nonton grup ini. Apakah didominasi oleh anak-anak usia SMP nana lay menurut orang dewasa, atau para manusia biasa yang butuh hiburan aja. Jebulane. Isine beragam. Haha

Lokasine pas pentas Guyon Waton kemarin di Pendopo Parasamya. Sebenernya, nek menurut saya ya kurang representative soal e animo sek ndelok ki gede sedangkan halaman Parasamya ki gur cilik. Sedikit kecewa dengan ini dan yang saya takutkan terjadi juga. Rusuh, meskipun bukan dalam arti ada yang berantem. Tetapi, penonton memaksa untuk masuk ke area dalam Parasamya karena gerbang ditutup pas awal penampilan Guyon Waton. Meskipun ya akhirnya gerbange dibuka, tetapi karangan bunga dari para pengusaha banyak yang diinjak-injak dan tidak karuan, tanaman dalam Parasamya juga saya yakin pasti rakalap bentukane. La kepie, jal? Itu dijadikan alas untuk anjlog dari gerbang kog. Ning ya uwis lah. Semoga panitia belajar akan hal ini dan besok-besok lebih baik lagi acarane.

Nek penontonne, ya isine ya macem-macem. Anak-anak SMP dengan gaya baju jiplakan selebgram, remaja usia SMA dengan gaya nan modis make up tebal, anak kuliahan yang identik dengan band indie ning jebulane atine ndangdut banget, keluarga kecil dengan satu anak, bahkan hingga para orangtua yang sekedar penasaran, “Eh, nang Paseban ana apa ta?”.

Menyaksikan polah tingkah para penonton juga menyenangkan. Ada yang dengan penuh percaya diri berjoget bersama teman satu grupnya, ada yang dengan malu hanya menggoyangkan bagian kaki saja, ada yang dengan khusuk diam tapi entahlah dalam hatinya, apakah dia bergoyang seakan tidak ada yang melihat atau memang khusuk dengan ke-nggrantesan lagune Guyon Waton. Beberapa bernyanyi dengan 80% berisi curahan hati dengan keras nan lantang, beberapa bernyanyi dengan suara seadanya karena ya biasa wae swasana hatine, beberapa cukup berkomat-kamit seperti dukun baca mantra.

Beragam perilaku seperti ini menarik untuk dilihat dan menggothak gathik gathukan apa yang saya pikirkan. Nek dari penampilan Guyon Waton sendiri. Bisa saya simpulkan, mereka layak mendapat acungan jempol. Nek seko suara, saya nggak gitu paham. Sekedar nyanyi ora serak dari awal penampilan sampai akhir lagu yang ditampilkan saja, akan saya kasih dua jempol, apalagi kalau sampai yang menghanyutkan gitu suaranya. Ha bisa-bisa saya teriak penuh histeris.

Kepengen ndelok meneh ora? Nek ada kesempatan, iya. Ning nek kudu nyengkakne marani mrono mrene, enggak. Semoga ya. 😀

Eh, nggak ada foto, nggak sempet. Hanyut saya sampai penampilan dan nonton penontonnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s