Terima kasih, 2018!

Sepertinya ini pertama kalinya saya menulis tentang review tahun. Haha. Sok-sok an review tahun. Embuh apapun itu namanya, pokoknya saya mau berbagi cerita.

Continue reading

Advertisements

Buruh Rewang II

Nek kemarin saya cerita tentang pekerjaan sebagai rewang di acara hajatan, maka kali ini saya akan bercerita tentang pekerjaan sebagai rewang namun di bidang rumah tangga.

Nek sekarang banyak yang menyebutnya sebagai pembantu atau asisten rumah tangga, nek di desa ya tetep nyebutnya sebagai rewang wong dia pekerjaan rumahnya ewang-ewang atau bantu-bantu. Bantu-bantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan domestic perempuan nek jaman saikine akeh sek nyebut. Nek dulu, ada yang lelaki juga. Nek khususon yang lelaki ini, dulu ya banyak banget job desknya. Biasane yang mampu punya buruh lelaki ya seorang pejabat desa, ya minimal dukuh lah.

Seorang dukuh di desa kan punya sawah pelungguh, nah sawah ini harus digarap. Biasane lagi, seorang dukuh ini punya rumah yang berpendopo dan halamannya luas. Kalau mengandalkan rewang perempuan, bisa dipastikan njembrung karena rumput liar pasti numbuh tidak karuan. Kemudian, ladang juga mesti punya dan bisa jadi punya banyak lahan tanah di tempat lain. Ini nek punya pohon kelapa atau yang bisa menghasilkan, rewang lelaki ini yang akan membantu untuk membersihkan hingga memanen hasil dari tanah tersebut. Minimal, kelapa lah. Sampai buah lokal macam pisang, jambu, hingga rambutan.

Nek yang lebih umum atau biasane lagi, para rewang lelaki perempuan ini biasanya masih suami istri atau masih ada hubungan saudara. Dipilihnya seperti itu ya supaya kepenak saja untuk koordinasi. Selain memanen dan ngrumat lemah, buruh lelaki ini juga sekalian membantu ngangsu kolah. Nek dulu itu, kan belum ada yang namanya pompa air. Jadi, buruh lelaki ini juga sekalian menjadi buruh timba. Tidak heran nek saya. La wong kolah orang jaman dulu gi gede dan sumur juga ada yang jeru gitu. Nek ditandangi rewang perempuan ya mesakne, njuk gawean liane ora ketandangan. Lak malah repot.

Biasane, para rewang ini juga sudah mbatih sama keluarga yang mereka ewangi. Bahkan, beberapa mungkin dijadikan tempat untuk curhat sampai tempat untuk meminta saran atau pandangan. Anak yang mereka ewangi juga terkadang menganggap mereka sebagai ibu kedua. Ya saking dekatnya. Tetapi, kalau sudah ada simbahnya, ya itu lain ceritane. Hubungan seperti ini memang tidak terjadi di semua keluarga apalagi di desa, tetapi masyarakat desa sudah mahfum karena ya informasi dari mulut ke mulutitu lak cepet nyebarnya, jadi yah hal-hal trend semacam punya rewang itu ya cepet diketahui.

Keluarga rewang juga sudah dianggap sebagai keluarga tambahan biasanya, makanya tidak jarang bahkan sampai ada yang mau menyekolahkan atau ikut ngemong dengan cara menjadikan anak sebagai tambahan rewang. Kalau punya binatang peliharaan macam sapi atau kambing ya diminta untuk merawat binatang peliharaan tersebut. Kalau urusan seperti ini ya jelas rewang tambahannya adalah anak lelaki, nek anaknya adalah perempuan ya bantu ibunya yang menjadi rewang juga. Terkadang, mereka ini juga bermian bersama dengan anak yang ikut direwangi. Ya layaknya anak-anak saja.

Terdengar klasik dan seperti dalam cerita sebuah novel ya? Ya pie, la wong memang seperti itu kog ya. Nek jaman dulu mungkin rewang ikut tinggal di dalam kawasan rumah tuan rumah, nek sekarang rewang ya bisa pocokan. Datang pagi pulang sore, atau bahkan ya seperlune saja. Misalnya seminggu datang hanya Senin sampai Rabu. Atau rewang hanya untuk cuci saja, jadi ya kalau pekerjaan cuci selesai ya pulang. Gitu. Apapun itu job desk yang diampu oleh rewang, keberadaanya memang masih dibutuhkan sampai dengan sekarang. Ya, manusia memang ndak bisa hidup sendiri. Mempunyai rewang terkadang menjadi salah satu cara untuk mengurangi pengangguran kan?