Kapuk. Masih dipakai?

Mau sedikit bercerita tentang bahan pembuat kasur, bantal, dan guling yang bernama kapuk. Mungkin anak lahiran tahun dua ribuan sekian nggak banyak yang tahu. Mungkin loh, ya.

Berawal dari sebuah kesadaran kecil kalau jebulane saya punya tetangga seorang pembuat kerajinan berupa bantal dan guling dari kapuk. Lantas, saya memposting di WA story, lantas dikomentari salah seorang teman saya, akhirnya saya tahu kalau jebulane bantal seko kapuk ki ijik akeh sek minat. Ya cara bodhone, Dek, nek ijik ana sek gawe berarti ijik ana sek gelem nuku dan payu. Gitu aja.

Meskipun kapuk bukan komoditas seksi apalagi untuk bahan baku pembuatan bantal dan guling apalagi kasur, namun peminatnya lumayan banyak. Selain harga yang bisa dikatakan masih masuk akal, kapuk ini jebulane teges untuk urusan kepegasan. Kalau sekarang ini banyak yang lebih memilih dakron sebagai bahan isian bantal ya pie, empuk dan bersih. Bukan berarti kalau kapuk itu kotor loh, ya, tetapi sifat kapuk yang suka mumprul kalau ada jahitan pinggiran bantal yang terbuka membuat orang malas soalnya bikin sesak nafas.

IMG_20180831_132345

Nek secara ukuran, bantal kapuk ya lebih midut-midut seksi gitu. Sintal. Menyenangkan dikenyuk-kenyuk. Nek dipakai untuk sandaran kepala mungkin terlalu tinggi, tapi lama-lama ya kepenak. Ndilalah e teman saya yang mencari bantal kapuk memang dipakai untuk bantal duduk karena ada salah satu anggota keluarga yang sedang sakit dan membutuhkan latihan duduk namun tidak bisa kalau duduk langsung di lantai tanpa alas. Harga yang dipatok pas itu satunya 50 ribu rupiah. Nek bagi saya ya terjangkau. La proses untuk membuatnya ki lumayan panjang loh.

Dimulai dari nyang-nyang  an dulu dengan pemilik pohon randu. Ini tidak mudah juga karena harga di pasaran kan nggak banyak yang tahu, tapi pas itu saya tanya ke pengrajinnya berapa harga satu kilonya, beliau menjawap 25 ribu rupiah. Mahal atau murah? Ndak aada jawapan pasti wong itu juga sistemnya borong. Menek dewe alias menek dewe, njupuki dewe, ngloni dewe, dan semuanya dewe. La tapi sekilo ki yo ora sitik. La ukurane kan kapuk. Enteng. Jadi ya gitu, ndak ada standar pasti. Sek mesti, istilah tuna satak bathi sanak ki masih dipegang bagi masyarakat Bantul.

Sudah selesai manen ya ndak langsung bisa diprutuli trus dibikin bantal. Prosesnya masih panjang. Setelah dipisahkan antara kulit dan biji, lantas di sabuti atau dibikin halus supaya bisa nyaman ketika dimasukan ke sarung bantal dan dipakai untuk alas tidur. Harus benar-benar halus dan bersih supaya sifat kepegasannya maksimal. Ini juga tidak mudah wong pas masuk di sarungan bantal harus digenahne lagi. Dan proses ini kadang selain bermusuhan dengan angin juga bermusuhan dengan stamina. Kena kapuk sedikit, gebres-gebres ndak ada habisnya.

IMG_20180831_132148

Di tahun 2018 yang hamper selesai ini, jebulane masih ada orang dengan cara mengais rejeki di bidang yang saya katakana unik ini. Dulu mungkin pengrajinnya banyak, nek sekarang lak masih bisa dihitung dengan jari. Ya semoga rejeki tetap lancar ya. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s