Nikahan a la Suhay Salim, bisakah?

Dari kemarin malam sudah ramai di Twitter perihal gaya menikah salah seorang Youtuber bernama Suhay Salim. Kenapa? Bukan karena nikahannya yang jor-jor an seperti yang sedang diperbincangkan (baca; crazy rich surabayan), melainkan karena gaya menikahnya yang sederhana. Benar-benar sederhana dan apa adanya.

Suhay Salim menikah di KUA dengan mengenakan baju sederhana. Blouse dan celana jeans. Suaminya mengenakan kemeja dan terlihat santai. Banyak yang terkejut dan kemudian kembali menyadari bahwa, “Jebulane rabi ki yo isa biasa wae”. Biasa wae dalam arti yang jebulane ki ya isa nganggo klambi kaya nek meh dolan ngonoo loh. Lo laya isa. Sek dadi masalah ki jan e, nek dipikir temanan, kan kepie omongane tetangga dan kepie rasane orangtua.

Sebagai orang yang lahir ceprot di lingkungan lambe torah lengkap dengan segala drama dan ngumuminya, saya sangat hapal dengan reaksi para tetangga kalau nanti, misalnya, saya rabi meniru gaya Suhay Salim. Paling meteng ndisik, paling bangkrut, paling bojone kere, dan sebagainya – dan sebagainya. Ya gitu itu wes. Lambe ne tetangga ki cen hadeeeh.

Bersyukur sekali Mbak Suhay Salim tidak mempunyai tetangga yang seperti itu, atau setidaknya, telinga Mbak Suhay sudah tebal sekali untuk mendengarkan ocehan tetangga yang nirfaedah. Kemudian, beruntung juga mempunyai orangtua yang membiarkan anaknya “memilih” akan bagaimana kelak dia menikah. La pie, wong ndak jarang yang namanya pesta pernikahan ki lak pestane orangtua. Wujud syukur, katanya. Meski terkadang yang terlihat adalah wujud dari rasa gengsi karena, wingi tangga sek kae ewuh ae jor-jor an padahal muk wong biasa, atau wingi sedulur sek kae ewuh wae apik banget ulih-ulih e, dll-dll.

Padahal, kalau dilihat lagi, kepentingan dari yang namanya rabi ki kan sah di mata agama dan negara ya. Ya biasa aja ki bisa, keleus. Cen bener, sek nglakoni lo uwis biasa-biasa wae, sek kakean rame ki malah sek nyawang. Ya nek dalam bahasa Jawa ada istilah “kendel alok” alias “berani complain” karena ya cuma ndelok, cuma melihat. Ndak ikut nglakoni atau minimal mengerti keadaan.

Jadi, apakah bisa meniru gaya Suhay Salim dalam menikah? Jawabannya adalah, bisa. Tetapi ya itu tadi, harus siap dengan segala konsekuensinya. Minimal jadi bahan pembicaraan saudara, kerabat, dan handai taulan, sampai jadi gossip di tetangga. Sekiranya memang tidak begitu berani banget yang seperti itu, ya dandan lah barang sedikit. Sewa baju yang biasa namun nyaman. Memberikan sedekah seumumnya saja sebagai salah satu wujud syukur. Nek istilah Jawanya ya digendurekne lah, dimintakan doa restu dari saudara dan tetangga. Nek perkara biaya, saya kira semua orang pasti sudah memikirkan akan hal itu, terlebih orang yang mau menikah.

Nek saya, ya kabeh ki bali ro sek bakal nglakoni. Arep biasa wae ya mangga, arep jor-jor an ya mangga. Toh ora nganggo duitku. Hehe 😀

Nek njenengan, ada impian rabi atau menikah yang bakal seperti apa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s