Mantan Manten; Sek penting ikhlas

Uwong yang-yangan kui, nek ora berakhir dadi manten, yo dadi mantan. Njuk kepie rasane nek iruh mantan dadi manten? Ambyar boleh, tapi jangan lama-lama. Rugi!

IMG_20190409_160626

Seneng banget karena masih bisa nguyak nang bioskop untuk nonton film ini. Ini salah satu yang tak tunggu di bulan April ini selain Ave Maria dan Kucumbu Tubuh Indahmu. Terlebih ini film lokal, penulis naskahnya Jenny Jusuf, yang memproduksi Visinema. Inget Love for Sale. Nah, itu, sama dengan film ini rumah produksinya. Jadi ya sehingga, lur.

Apa yang diceritakan dari film ini? Tersebutlah seorang Yasnina Putri. Mapan, mandiri, cantik, dikenal banyak orang, sukses, nggak kurang suatu apa. Scene awal sudah rapet banget adegan yang terjadi di kehidupan Yasnina. Dibuka dengan scene ajakan nikah, lanjut disebuah gelaran acara penghargaan, eh la kog hari berikutnya dia terkena kasus terlibat penipuan investasi. Bergulir cepat tanpa harus bingung. Good job, Visinema.

Agaknya memang adegan dan beberapa hal penting akan banyak di sorot ketika Yasnina banyak menghabiskan waktunya di Tawangmangu. Ini Jawanya kental sekalee. Yasnina terpaksa tinggal di Tawangmangu karena hanya di situ satu-satunya asset yang dia miliki setelah semua hal yang dia punyai di Jakarta direnggut oleh kasus investasi bodong tersebut. Ndilalah e, Yasnina ini bekerja untuk perusahaan ayahnya Surya (Surya adalah pacar Yasnina). Ndilalah e lagi, pemilik rumah di Tawangmangu ini adalah juga kerabat Surya. Ya muter di situ-situ saja sebenernya, tapi menarik.

Long short story, Yasnina haru belajar paes karena pemilik rumah menginginkan dia menjadi penerus usaha paesnya. Tidak semudah itu juga Yasnina mau, dengan konsolidasi a lot tentu saja akhirnya Yasnina oke. La judule wae terpaksa j. tapi ya akhirnya dijalani dengan ikhlas. Terlihat dari apa? Dari akhirnya Yasnina mau menjadi juru paes untuk pernikahan Surya dan pasangannya hasil perjodohan kedua orangtua mereka. Ending yang melegakan sekaligus nyesek untuk seorang Iskandar (ayah Surya).

Saya banyak dapat quote bagus di film ini. Beberapa diantaranya adalah untuk tidak berjanji apabila tidak bisa memenuhi janji tersebut. Untuk tidak membuat standar sendiri atau menggunakan standar orang lain untuk menilai diri sendiri atau orang lain, sampai kalimat, “Pacarnya ganteng sih, tapi tidak menghibur”. Kalimat terakhir tersebut diucapkan oleh seorang Dodit Mulyanto. Jadi, kebayang kan bagaimana lucu dan bikin gemasnya film ini? Haha.

Pemain yang dipakai juga oke. Ini Tyo Pakusadewo ni tempting sekali memang ya. Hehe. Tapi, ada scene pas dia dengan Arifin Putra saya malah ketawa. Waktu dia bilang, “To be honest” dengan aksen Jawa nan kental. Hahaha. Maafkan saya, namun itu menggelitik sekali. He still awesome, thought?

Melalui film ini juga saya kembali memaknai seorang juru sumbogo itu ternyata tidak hanya seorang pemaes atau perias manten. Dia seakan menjadi tulang punggung sebuah perhelatan manten kalau di Jawa. Ada rapal doa yang dia ucap, laku prihatin sebelum “bekerja”, dan pemberi nasihat yang baik ketika sebuah manten dihelat. Sungguh berbeda dengan yang sekarang ini banyak ada, yang hanya sekedar terlihat bisa ndandani namun tidak dandan. It is not about mangling or not loh ya, but the spiritual action behind those things yang bikin jadi inviting untuk dikulik dan digali lebih lanjut.

Uum, nganu, jadi ya nek putus-putus aja. Jadi mantan ya jadi mantan saja. Mari dilakoni kanthi ikhlas hati. Nanti juga ketemu akan dengan siapa akhirnya menjalani hari-hari dengan siapa. Kehidupan dewasa ini ya rumit-rumit seru, jadi ya mari dinikmati.

Saya jadi malah kepengen melihta film spin-off Mantan Manten ini namun tidak dalam bentuk makin rumitnya hubungan Yasnina dan Surya atau Surya dengan istrinya, namun ke kehidupan Yasnina itu sendiri. Laku spiritualnya dia di film ini membuat pemainnya, Atiqah Hasiholan tidak nampak seperti perempuan Batak. She is totally Javanesse. Rumah yang dipakai untuk pengambilan gambar juga apik banget. View nya dong, breath-taking sekali. Semoga ada rejeki nyambangi kesana, Ya Allah.

Secara semuanya, saya suka film ini. Saya kemudian jadi berpikir ketika sudah selesai nonton film ini, ini orang yang nonton apa ya njuk jadi tidak pengen rabi? Haha 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s