Kucumbu Tubuh Indahku; APIK!

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, dua film yang saya enten-enteni adalah Ave Maryam dan Kucumbu Tubuh Indahku. Keduanya adalah tipikal film festival, jadi nek sudah masuk ke bioskop biasanya “disesuaikan”. Magsud saya adalah, beberapa adegan ada yang dipotong, padahal sudah ada catatan 21+ yang artinya sudah ada filter penonton, tapi ijik wae dipotong. Hadeeeh! Tapi ya sudahlah, tidak apa, wong pas pemutaran festival juga saya belum tentu bisa nonton.

Ave Maryam sudah berhasil saya tonton sekitar minggu lalu. Nah, sekarang film Kucumbu Tubuh Indahku karya garin Nugroho. Pie film e? cukup satu kata. APIK!

Film ini diadaptasi dari kisah nyata seorang tokoh. Latarnya di daerah Banyumas dengan dasar seorang penari lengger. Padahal, kalau dilihat secara keseluruhan, film ini memiliki pesan yang sangat bagus. Saya menangkapnya sebagai sebuah penginat, bahwa manusia tidak benar-benar bisa berkuasa akan tubuhnya. Di film ini, sang tokoh menjadi begitu erat kaitan tubuhnya dengan tarian lengger. Di kehidupan nyata, manusia erat kaitan tubuhnya dengan hal yang dia jalani dan lalui.

D4v5e3wUEAEDCUZ

Nek tak pikir-pikir, iya juga, seberapa berkuasa kita akan tubuh yang saat ini kita diami? Kita memang membawa tubuh ini kemana-mana, namun nyatanya, bisa saja tubuh kita tertinggal di suatu tempat yang pernah disinggahi. Tidak hanya itu, memori akan tubuh juga bisa melibatkan hati dan jiwa. Ahelah, bahasa saya berat sekali kali ini.

Keapikan lain dari film ini adalah munculnya beberapa hal yang sering terjadi di masyarakat yang erat hubungannya dengan hal mistis. Di film ini adanya peran gemblak  membuat semakin mistis auranya karena ada satu adegan di mana warok mendeklarasikan gemlaknya di depan khalayak. Ini erat dengan hal spiritual menurut saya. Lumrah, tapi ya masih sering dianggap tabu.

Para pemainnya bermain apik sekali. Soundtractnya juga keren, indie semua sepertinya. Ini terlihat eksklusif dan mbedani. Saya senang bisa menonton film ini karena ya sekabehane apik.

Quote yang ngena sekali yang saya ingat sampai hari ini adalah, “ Hidup itu Cuma numpang ngintip urip, pisah, pindah, mati, adalah hal yang biasa”. Ini hakdesh sekali. Menuturukan bahwa sebenernya manusia itu ya ndak punya kuasa apa-apa akan hidupnya. Ada hal yang “mengatur” bagaimana kehidupan manusia itu dijalankan. Ya tapi ya ndak semua orang bisa menerima hal ini ding.

Hal yang menonjol dan mungkin menjadi tidak mudah diterima oleh masyarakat Indonesia akan film ini karena film ini mengangkat percintaan antara laki-laki dengan laki-laki. Ya nek saya monggo saja, preferensi orang lain-lain. Berbeda pendapat boleh, gontok-gontok an yang tidak boleh. Bukan begitu, sobat sambat?

Mumpung masih ada di bioskop, nonton gih! Selamat berpikir! Haha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s